Memaparkan catatan dengan label backpacker. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label backpacker. Papar semua catatan

8 Hostels in Langkawi That Cost Below RM20 for Broke Backpackers

 


Looking forward to a trip to Langkawi Island and trying to find places to stay that are budget-friendly?

Well, I have tried to make a list of the best hostels under RM20 where you can choose to stay without worrying about the cost. Hostels have now become a thing in Malaysia. Apart from being budget-friendly, there are quite a few reasons to consider for staying at a hostel.

You get to meet interesting people whom you have never met. You get an opportunity to be acquainted with people belonging to different cultures and places. You’ll realize right away that you are surrounded by people who are quite fun in their unique way. You might even end up making great bonds with them. In fact, who knows you might as well plan your next trip with them. Hostel experiences turn out to be super amazing which you will cherish forever. And once you are at it, there is no looking back!

On that note, take a look at some of the best hostels where you can enjoy your trip without burning a hole in your pocket in Langkawi Island.

1. BONOBO HOSTEL






BONOBO Hostel is the cheapest hostel to be at while you are in Langkawi. This hostel is all about simplicity, beautiful corners, clean and tidy, lovely people around, and a great overall vibe.

This property offers: A mixed dormitory, single room, double room, locker, shared bathrooms, and a shared lounge to spend some time indulging in fun-filled games and other entertaining activities include a billiard table as well as free Wi-Fi and breakfast at the cafĂ© too.

Cost: RM14/night

Click here for bookings.

2. VILA THAI




Vila Thai is conveniently within a 10-minute walk to the famous Pantai Cenang and is no doubt one of the best hostels to experience a relaxing stay. A favorite amongst travelers, this hostel is situated along Jalan Bohor Tempoyak. This property features brightly painted green walls, spacious air-conditioned rooms that are simply furnished with a desk, an electric kettle, and a flat-screen TV. Rooms come with an attached bathroom offering a shower facility.

This property offer: A spa and wellness center, where guests can indulge in a pampering massage. Guests may also rent a bike or car to explore the area and visit nearby attractions.

Cost: RM15/night

Click here for bookings.

3. TWO PEACE HOUSE




Two Peace House is set in Pantai Cenang, 2.7 km from Airport Beach and 500 m from Laman Padi Langkawi. The property is located 1.5 km from Underwater World Langkawi, 1.1 km from Cenang Mall, and 13 km from Makam Mahsuri. 

This property offers: Boasting a shared lounge, garden, BBQ facilities, free WiFi, shared kitchen, a tour desk, and ticket service for guests.

Cost: RM15/night

Click here for bookings.

4. DAR YASMINE MOTEL




Set in Cenang Beach, Dar Yasmine Motel offers accommodation with a shared lounge, free private parking, a garden, and barbecue facilities. Boasting room service, this property also provides guests with a children’s playground. The accommodation features a 24-hour front desk, airport transfers, a shared kitchen, and free WiFi.

This property offers: All guest rooms come with a dishwasher, microwave, a kettle, a shower, a hairdryer, and a desk. The rooms at the hostel are fitted with a private bathroom and bed linen.

Cost: RM16/night for a bunk bed in the female dormitory room

Click here for bookings.

5. MOTODORM BACKPACKERS




This hostel, which is near Langkawi Bird Paradise, Kuah Jetty, and only 3 kilometers away from Dataran Helang. Book this hostel if you are coming by ferry. Rooms are equipped with a patio with mountain views. All in all, it is a beautifully designed space for all budding travelers. Buffet breakfast is available each morning.

This property offers: All rooms are fitted with a fridge, toaster, a kettle, a shower, slippers, and a desk. With a shared bathroom, rooms at the hostel also boast free WiFi. All units have a private bathroom, a hairdryer, and bed linen.

Cost: RM17/night

Click here for bookings.

6. PERINTIS MOTEL



Perintis Motel is located in Kuah, 3.5 km from Langkawi Kristal, 4.2 km from Sungai Kilim Nature Park, 4.2 km from Langkawi Bird Paradise and 5 km from Dataran Helang. This property also features family rooms.

This property offers: Free WiFi and free private parking.

Cost: RM19/night for a bunk bed in dormitory

Click here for bookings.

7. OHANA LANGKAWI HOSTEL




OHANA Langkawi Hostel is one of those cozy backpacker hostels. You will find it tucked in a scenic, peaceful corner of Tanjung Rhu, 2.6 km from Shark Bay Beach where you can watch daily sunset at the fullest. Perks of being here include: getting to enjoy the stunning beach & scenery.

This property offers: Free breakfast, a sun terrace, shared lounge, along with free WiFi throughout the property. They also offer entertainment staff and a tour desk.

Cost: RM19/night

Click here for bookings.

8. LET'S GO TO MARKET HOSTEL




Boasting a shared lounge, Let’s go to Market Hostel is located in the center of the town of Kuah, as the name implies. It’s just 2.9 km away from Langkawi Kristal, 3.1 km from Sungai Kilim Nature Park, 3.1 km from Langkawi Bird Paradise, 3.7 km from Dataran Helang and 38 km from Pulau Payar Marine Park.

This property offers: All rooms in the hostel are fitted with a kettle. At Let’s go to Market Hostel the rooms include a shared bathroom.

Cost: RM19/night

Click here for bookings.

You don’t have to be rich to travel well. These are a few of the cheap hostels where you can have a guaranteed budget and a pleasant stay!

You may also check Rasta Haus (Kuala Teriang)Bed Attitude (Cenang).

.

.

.

Footnote: The prices may vary depending on days and seasons, but you still would get less than RM20.



Backpacking Pakistan 35: Repatriasi

 

Bulan-bulan penuh perjuangan di atas jalan kembali bermain dalam memori

11 April 2020

    Sudah 3 minggu aku terkandas di ibu kota Islamabad akibat sekatan perjalanan yang dikenakan terhadap seluruh negara. Ini berikutan situasi wabak Covid-19 yang sudah diluar kawalan dan semakin memburuk hari demi hari. Pakistan juga telah menutup semua pintu sempadan dan juga lapangan terbang, sekaligus menyebabkan aku juga tidak dapat keluar dari negara ini.

20 Mac lalu, aku baru saja menarik nafas lega setelah selamat tiba di kota Gilgit dari Abottabad selepas mengharungi perjalanan yang begitu panjang dari Lembah Swat. Dan ketika aku ingin melanjutkan petualangan menuju utara ke Lembah Hunza, tiba-tiba satu SMS singkat oleh seorang teman dari desa Karimabad membubarkan segala perancangan yang telah aku rangka.

"Shareef, saya fikir kamu tak boleh datang ke Hunza sekarang. Pihak kerajaan baru saja mengumumkan lockdown di seluruh wilayah Gilgit-Baltistan," demikian tulisnya. Ringkas, namun cukup menghampakan aku yang membacanya.

Kemudian datang lagi SMS yang kedua, "lekas keluar dari Gilgit sebelum tidak ada kenderaan langsung di atas jalan. Pergilah ke Islamabad supaya kamu dapat berhubung dengan pihak konsulat," pesan Najeeb, pemuda yang pada awalnya mengundang aku ke rumahnya di Hunza.

Aku menurut apa yang telah dinasihatkan Najeeb menerusi SMS darinya, tetapi dalam masa yang sama aku berdepan masalah untuk mencari tempat tinggal di sekitar Rawalpindi mahupun Islamabad. Ini kerana tidak ada seorang pun host dari Couchsurfing yang bersedia menerima tetamu tika pandemik Covid-19 sudah mulai menular ke seluruh penjuru negara. Tambahan lagi, wilayah Punjab, Balochistan, dan Sindh antara yang paling teruk terkesan setelah menghimpun ramai angka korban.

Guesthouse di sekitar ibu kota juga sudah tidak lagi mengalu-alukan kedatangan warganegara asing. Tak kurang juga hotel-hotel dan penginapan lain yang sudah mula diarah untuk menghentikan operasi oleh pihak berkuasa tempatan.

Aku amat bernasib baik apabila Mohsin dan Sara, pasangan suami isteri yang aku kenali ketika aku di Islamabad Januari lalu menawarkan aku untuk menginap di rumah mereka. "Tinggallah seberapa lama pun yang kamu mahu," kata Sara, wanita Iran yang baru saja berkahwin dengan Mohsin pada hujung tahun 2019, "sudah menjadi kewajipan kami membantu musafir yang terkandas."

Sepanjang tiga minggu aku di Islamabad, aku mendapati ibu kota ini begitu kontras dengan kota kembarnya, Rawalpindi. Di Islamabad, hanya premis-premis perniagaan sahaja yang ditutup. Namun kehidupan hariannya tetap berjalan seperti biasa. Penjaja di jalanan kota masih berdagang seperti biasa, kenderaan-kenderaan tetap lalu lalang di atas jalan raya seperti biasa, para pengemis, dan orang awam masih berjalan ke sana ke sini seperti tidak ada apa-apa yang berlaku, dan begitu juga masjid, tempat di mana para lelaki berhimpun untuk melakukan ibadah setiap hari, tetap ramai seperti hari-hari biasa.

"Imam kami mengatakan virus ini tidak akan menjangkiti kami seperti di negara barat," ujar Haji Durani, lelaki 52 tahun yang aku temui di gerbang sebuah masjid pinggir kota, "umat Islam mementingkan kebersihan diri, kita mencuci tangan, muka, dan kaki lima kali sehari sebelum bersolat, lalu kenapa kita harus khuatir? Khuda (Tuhan) sentiasa ada bersama kita!"

Aku menyangkal kata-kata Haji Durani. Setinggi manapun tingkat iman kita, siapakah di antara kita yang lebih afdal daripada para sahabat? Mereka yang dimuliakan pun turut tidak terlepas dari serangan wabak. Pada zaman kepimpinan Umar al-Khatab, pernah tersebar sejenis wabak berjangkit dan bahkan ada sahabat-sahabat Nabi yang mulia seperti Abu Ubaidah al-Jarrah (salah satu dari 10 orang yang dijamin masuk syurga), Muadz Bin Jabal, dan beberapa lagi sahabat lain yang menjadi korban akibat dijangkiti wabak itu.

"Saya mahu azan sebentar lagi. Kalau kamu mahu ikut solat, silakan masuk ke dalam masjid. Tak ada apa yang perlu dirisaukan, kuatkan iman kamu dan percaya pada yang Satu," kata Haji Durani lantas meninggalkan aku terpinga-pinga di pintu masjid.

Jamia Masjid Diwan Umar Farooq di sektor F-10, Islamabad

Tentu saja aku tidak menerima pelawaan lelaki itu. Menyaksikan kedegilan para ahli masjid di seluruh Pakistan ini, takut sekali aku membayangkan sekiranya gelombang kedua dan ketiga datang membadai negara yang berpopulasi 220 juta orang ini.

Keesokan harinya, aku pun membuat keputusan untuk menamatkan perjalanan aku di sini yang sudah menjangkau setengah tahun dan pulang ke Malaysia kerana bimbang dengan ketidakpastian hari-hari mendatang sekiranya aku terus menetap di Pakistan. Dengan bantuan kakitangan pihak Konsulat dan kedutaan Malaysia di Islamabad, juga hasil perbincangan dua hala antara pihak Wisma Putra dan menteri luar Pakistan yang memakan masa selama berminggu-minggu, akhirnya sebuah pesawat khas berjaya diaturkan untuk berlepas dari Islamabad ke Kuala Lumpur.

Hari ini merupakan detik bersejarah buatku. Tanggal 11 April 2020, pesawat Pakistan International Airline bernombor PK894 meninggalkan landasan tepat pada pukul 3 pagi menuju Kuala Lumpur. Pesawat yang berkapasiti lebih daripada 300 tempat duduk ini tampak lengang dengan banyak kekosongan kerusi kerana hanya 196 orang penumpang sahaja yang mengisi perut pesawat.

Terlalu banyak rintangan dan halangan yang perlu aku hadapi untuk pulang ke tanah air. Dari proses mendapatkan tiket penerbangan yang sangat mahal bagi ukuran dompetku, sehinggalah perjalanan untuk mencapai lapangan terbang pada malam keberangkatan yang mana aku rasakan terlalu panjang untuk dituliskan di sini. Justeru aku hanya bersyukur dan ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memudahkan segala urusanku.

Singkat cerita, pesawat sudah pun perlahan-lahan berlepas meninggalkan bumi. Sudah lama sekali aku tidak naik pesawat. Seperti anak kecil yang baru pertama kali terbang, aku duduk di pinggir jendela, terpegun menyaksikan perubahan spektrum bumi. Lampu-lampu kota Islamabad tampak seperti kerlipan bintang yang bertabur sejauh mata memandang.

Garis langit kota dalam beberapa jam berubah menjadi puncak-puncak gunung salju yang samar-samar disuluh cahaya bulan. Gagah dan penuh keagungan. Mungkinkah pesawat ini sedang terbang di atas bumi India? Apakah di bawah itu Himachal Pradesh? Atau Uttarakhand? Kenangan aku melayang pada beratnya petualangan di Himachal Pradesh, mulai dari Manali, hingga ke Chitkul, desa terakhir India di sempadan Tibet. Mungkin jalan pergunungan yang dulunya menghalang perjalanan aku ke Lembah Spiti masih lagi terbungkus salji pada ketika kini.

Aku teringat betapa beratnya melintasi pergunungan Himachal Pradesh, kepanikan semasa kereta yang aku tumpangi kemalangan ditimpa batuan gunung, atau ketika menunggu tumpangan berjam-jam di lereng gunung kerana tidak ada kenderaan yang melintas, atau seksaan tidur malam pada musim dingin yang menggigit di sebuah kedai makan, juga momen-momen berserah diri ketika sesat tanpa telefon pintar yang rosak di Dehradun.

Di sini, di kerusi tempat aku duduk sekarang, ribuan kaki di atas bumi, semua rintangan dan halangan di darat berlalu dalam hitungan saat. Dengan kelajuan 832 kilometer sejam, bulan-bulan penuh perjuangan di India dan Pakistan di atas daratan yang berkerut-kerut sama dengan perjalanan udara beberapa minit saja. Tetapi inilah keajaiban sebuah perjalanan. Ratusan hari perjalanan darat memang boleh digantikan dengan beberapa minit penerbangan, tetapi kebijaksanaan yang diajarkan oleh alam memang tak dapat disamakan.

Selamat tiba di KLIA

Pukul 12 tengah hari, 12 April 2020, pesawat ini selamat mendarat di Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur, atau lebih dikenali dengan nama KLIA. Malaysia, panas dan lembab. Dibandingkan Pakistan yang dingin dan kering, ini adalah dunia yang berbeza. Aku belum sampai di rumah, tetapi kampung halaman di sini rasanya sudah dekat sekali. Perjalanan setengah tahun tanpa henti, melintasi pergunungan Himalaya, gurun pasir Gujarat, warna-warni India, kehangatan persahabatan Pakistan, petualangan gila di daerah berbahaya Tribal Area, kemodenan Islamabad, dan tak lupa juga hari-hari yang getir sepanjang lockdown di Pakistan, akhirnya berakhir di sini.

Aku yakin, suatu saat nanti (yang kita belum tahu bila), badai pandemik Covid-19 ini pasti akan berlalu, dan sebahagian besar dari kita akan terus berjuang. Namun yang jelas, dunia kita pasca pandemik mungkin tidak akan pernah sama lagi. Banyak hal yang akan berubah dalam hidup kita. Yang paling jelas adalah cara kita mengembara. Sektor yang paling terjejas dari pandemik ini adalah industri yang berhubungan dengan perjalanan, iaitu pengangkutan dan pelancongan, yang akan memerlukan waktu lebih panjang untuk kembali pulih dari trauma. Para pejalan di masa akan datang mungkin akan diminta menunjukkan sijil kesihatan bebas corona atau buku rekod vaksin corona, sebagaimana surat keterangan vaksin 'yellow fever' yang diminta beberapa negara di masa kini. Para pelancong pun akan lebih mempertimbangkan faktor kesihatan dalam memilih destinasi mereka, sehingga negara-negara yang gagal menangani pandemik ini dengan serius mungkin tidak lagi menjadi pilihan.

Covid-19 telah menjadi tentangan bersama yang perlu dihadapi seluruh umat manusia. Pandemik ini untuk sementara waktu, memang terlihat seperti raksasa halimunan yang menghentikan roda globalisasi dunia kita secara mendadak. Tetapi sebagai produk globalisasi, ia tetap mengajarkan hal yang sangat penting tentang globalisasi: bahawa takdir semua umat manusia di bumi ini saling terikat antara satu sama yang lain. Kita semua adalah manusia yang sama, di bumi yang sama, berganding bahu untuk menghadapi masa depan global yang sama.

Tak ada kata yang cukup untuk mengungkapkan perasaan aku setelah dapat kembali semula ke tanah air selepas memulakan perjalanan dari Kerala, Oktober tahun lalu. Ribuan terima kasih aku ucapkan kepada semua kenalan di Malaysia (anda tahu anda siapa) yang secara langsung dan tidak langsung memberikan sokongan di sepanjang perjalanan aku di Asia Selatan.

Jutaan penghargaan buat tuan Deddy Faisal dan semua petugas Malaysia In Pakistan, Fareed producer stesen Radio Chitral FM, seluruh keluarga Jalal Uddin di Lembah Swat, pasangan Mohsin dan Sara di Islamabad, Biren Thapar di Lucknow, teman pertamaku di Lahore Yasir Muhammad, Kevin Baldha dan rakan-rakan yang menyelamatkan aku di Gujarat, Sharif Ahmad di Lembah Kalash, Adnan Aloi si pemilik Nan Cafe di Upper Chitral, dan semua penduduk Pakistan yang sentiasa menghulur tangan bagi musafir. Tanpa bantuan persaudaraan daripada mereka semua, mungkin agak mustahil untuk aku bertahan dan terus berjalan.

Terima kasih, jazakallah, dhanyavaad, syukriya, mehrbani, tashakor, dir manana, and thank you to all of you guys. Stay bless, stay safe, and take care.

Pakistan, aku pasti akan kembali.

Phir milenge.

(Tamat)

Keadaan Lapangan Terbang Islamabad yang lengang selepas pemerintah menutup sempadan negara

Penjarakan sosial dipraktikkan di dalam pesawat

Semua penumpang pesawat perlu menjalani ujian kesihatan sejurus tiba di Malaysia

Aku ditempatkan di Putrajaya Mariott Hotel bagi menjalani kuarantin wajib selama 14 hari

Backpacking Pakistan 21: Wanita Pakistan di Mata Seorang Pengembara Wanita

 

Poster filem Pashto di sebuah panggung wayang Peshawar

8 Mac 2020, Happy Women's Day

Sempena Hari Wanita sedunia yang disambut pada hari ini, suka untuk aku kongsikan cerita tentang kehidupan wanita Pakistan yang telah aku dengarkan dari seorang teman. Semasa aku bergabung bersama Couchsurfing community berkhemah di Taman Negara Bukit Margala Islamabad bulan lalu, aku sempat bertemu dengan Ammara, yang lebih mesra dipanggil Ammu, gadis Oman yang berkeliling di Pakistan seorang diri.

Dari Naran Kagan, dia menjelajahi Hunza, Fairy meadows, Shandoor, Gilgit, Khunjerab pass, Mangho Peer, Makli, Liari, Ranikot, Katas Raj, Perbatasan Kasur dan Wagah, Multan, Hyderabad, hingga ke Lahore. Setelah berkeliling di berbagai penjuru negara ini sendirian, aku bertemu dengan Ammu di Islamabad sebelum dia meneruskan perjalanannya turun ke selatan negara sedang aku pula menghala ke barat.

Sebelum memulakan perjalanan di Pakistan, Ammu sudah dipenuhi oleh ketakutan tentang betapa seramnya kelakuan lelaki Pakistan terhadap perempuan. Banyak cerita backpacker perempuan yang mengalami gangguan seksual selama di Pakistan, mulai dari gerombolan lelaki yang tak pernah puas memandang tubuh wanita dari hujung kepala sampai hujung kaki, hingga kategori lelaki jalanan yang menjamah dan merimaskan. Jangankan perempuan, sebagai lelaki asing, aku pun pernah mengalami gangguan.

Tapi ternyata sudah hampir dua bulan Ammu di sini, dia sama sekali tak mengalami pengalaman yang tak mengenakkan seperti itu. Malah dia sempat terharu oleh keramahtamahan orang Pakistan. Ketika di Lahore, dia menginap di rumah keluarga penunggang rickshaw (pengangkutan roda tiga di Pakistan). Abang kepada si penunggang rickshaw pula bekerja sebagai receptionist hotel. Bersama orang tua, isteri, dan anak-anak, tiga generasi keluarga besar ini tinggal bersama di bawah satu bumbung. Dari rumah mungil itulah, Ammu mulai menyelam ke dalam hidup wanita Pakistan.

"Menjadi perempuan asing itu membolehkan saya mempunyai dua identiti," kata Ammu.

Dia bebas makan dan berborak bersama kaum lelaki dalam keluarga itu. Di lain waktu, Ammu turut mempunyai akses ke bahagian rumah yang terdalam, berbagi cerita dan gosip dengan kaum perempuan anggota keluarga. Perihal ini adalah hampir mustahil untuk dialami oleh lelaki, baik lelaki Pakistan mahupun lelaki asing mana pun.

Dari berbagai cerita Ammu, aku sangat tertarik mendengar pelbagai selok belok Pakistan yang selama ini tak pernah terjangkau oleh mata aku. Misalnya, bagaimana kehidupan kaum wanita Pakistan di balik tirai cadar?


Terbungkus burqa

Jangan terkejut kalau mereka, seperti perempuan di belahan bumi lainnya, juga suka berdiskusi tentang kecantikan. Perempuan Pakistan yang hampir tidak nampak sama sekali di jalanan, dan kalau keluar pun selalu terbungkus rapat dengan niqab atau burqa, juga suka membincangkan perihal kosmetik yang paling mutakhir, pelembab wajah yang paling mujarab, bahkan teknik paling berkesan untuk menghilangkan bulu badan.

"Sebenarnya hidup mereka sangat selesa," Ammu mengisahkan pengalamannya beberapa hari tinggal di sudut rumah keluarga Pakistan, "Mereka hanya menyiapkan sarapan, makan tengah hari , memasak, dan membersihkan rumah. Selepas itu mereka boleh kembali berhias."

Pertama sekali menghias alis mata. Alis yang dicukur rapi menambahkan indahnya mata mereka yang cantik. Kemudian mengecat kuku dan tangan dengan henna (inai). Ini adalah kegiatan sosialisasi para wanita di rumah itu. Mereka saling mengecat sambil berbual tanpa henti. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk menorehkan sebuah karya seni yang indah di atas tangan mereka, dan apabila keluar dari rumah, semua kecantikan itu tersembunyi dalam balutan cadar yang tertutup rapat.

Pernah suatu hari Ammu diajak menonton filem di panggung wayang bersama seluruh anggota keluarga. Kaum perempuan keluarga itu sejak dari petang sibuk memilih pakaian, menghadapkan diri di depan cermin, menghiasi sekujur wajah dan tangan dengan berbagai pewarna, belum lagi deretan gelang, anting-anting, cincin, dan lain-lain perhiasan... Hanya untuk menonton filem pun perlukan waktu tiga jam untuk berdandan. Dan apabila keluar saja dari pintu rumah, dalam sekelip mata, rombongan puteri cantik tersebut berubah wujud menjadi susuk tubuh dalam kain hitam pekat. Yang tersisa cuma segaris pandangan mata. Kecantikan mereka yang tiada tara itu hanya diperuntukkan bagi suami tercinta.

Kaum perempuan keluarga itu kemudian berdesak-desakan dalam auto rickshaw mungil milik sang suami. Ketika sampai di panggung, sementara si lelaki membeli tiket, Ammu yang kerimasan pun ikut keluar. Serentak para perempuan dalam purdah itu menjerit panik, "Jangan! Jangan keluar! It’s very dangerous!"

"Kenapa? Kenapa mereka selalu hidup dalam ketakutan?" sebuah pertanyaan retorik dari hati Ammu.


Perempuan Pakistan di bazar

Mereka seperti tercabut dari keamanan di balik tembok rumah. Kaum perempuan ini tak pernah menginjakkan kaki keluar rumah sendirian tanpa ditemani lelaki anggota keluarga. Dan apabila mereka berada di luar zon selesa, mereka merasa dunia luar begitu berbahaya.

Aku juga pernah merasai pengalaman menonton filem Pakistan di panggung wayang ketika di Peshawar tempoh hari. Namun filem Pakistan sama sekali tak meninggalkan kesan bagus di benak aku. Ia agak kotor. Kalau dimainkan di Malaysia, tentu saja akan ditapis oleh lembaga perfileman.

Jalan ceritanya cuma mendatar, tambahan pula aku tak begitu faham bahasa Pashto. Yang aku tonton adalah hanya lelaki yang membawa senjata, kisah asmara, dan perempuan menari-nari. Di negara jiran India, Bollywood menjadi imej cantik negara itu yang ditayangkan ke seluruh dunia. Tetapi filem yang aku tonton di Peshawar bukanlah imej sebenar Republik Islam Pakistan.

Lima belas minit pertama, tanpa sebab dan tanpa alasan adalah adegan tembak-menembak tanpa henti. Para lelaki berjambang lebat membawa senjata api. Sang pelakon bersimbah darah, tapi tak tercedera. Tiba-tiba, juga tanpa sebab tanpa alasan, babak filem berpindah lokasi ke hari mandir, kuil Hindu – di mana para perempuan melenggang lenggok dalam tarian.

Peraturan ketat di negara ini memang tak memungkinkan adegan membuka baju, namun pembikin filem tak hilang akal dengan menyunting gerakan ghairah penuh simbolik. Hasilnya malah lebih berani dan erotik daripada filem porno. Seorang perempuan gemuk berpakaian basah dan agak tembus pandang yang menggoyang pinggulnya di air pancuran, memperagakan gerakan erotisme yang sangat mengghairahkan. Tapi kenapa perempuan gemuk? Ia memang aneh, perempuan bertubuh penuh lemak adalah selera konsumer filem di sini.

Babak tarian wanita itu juga berlangsung selama lima belas minit tanpa henti. Kemudian, tuppp, berpindah lagi ke adegan tembak-menembak para lelaki. Lima belas minit berterusan, pindah lagi ke tari-tarian. Pergantian babak sangat kasar, guntingan dua filem yang dipaksakan untuk tampil bersama, seolah-olah lagu dan tarian erotik itu memang selingan atau sajian utama yang dipaparkan dalam filem ini. Berterusan, berganti-ganti tanpa henti sampai tiga jam penuh.

Berbalik semula kepada kisah perjalanan Ammu, pengalaman menyelami kehidupan perempuan Pakistan sungguh merupakan pengalaman baru baginya. Ammu yang terbiasa dengan penampilan sederhana, dengan baju lengan pendek, seluar jeans, jaket, serta tidak berhijab, sering dipandang aneh oleh wanita Pakistan terutamanya ketika menaiki bas awam.

"Sebenarnya," katanya lagi, "semua ini bertujuan untuk melindungi perempuan."

Di dalam bas, tempat khusus perempuan adalah tempat yang aman daripada jilatan mata kaum lelaki. Di restoran, ada ruang khusus yang sentiasa tersedia buat pengunjung perempuan, agar tak terlihat oleh lelaki lain. Perempuan tak perlu beratur di kaunter. Perempuan selalu ditemani dan dikawal ketika keluar dari rumah. Sungguh, itu merupakan perlindungan yang luar biasa. Tetapi kalau difikirkan semula, dari mana datangnya keperluan untuk selalu terus dilindungi? Ketakutan? Tradisi? Atau justeru kerana bahayanya para lelaki yang masih menggoda kaum perempuan walau sudah bercadar sekali pun?


Wanita Pakistan umumnya tidak ke Masjid

Aku teringat dengan perbualan bersama seorang penumpang bas di kota Mardan yang pernah bekerja di Arab Saudi. Dengan penuh rasa hiba, dia meluahkan rasa simpati terhadap negara-negara seperti Indonesia dan Filipina.

"Lihat, sampai perempuan pun terpaksa bekerja jauh-jauh ke negara Arab!" Malah lelaki ini juga tahu bahawa ada wanita yang menjadi buruh binaan di Malaysia. "Apalah nasib perempuan-perempuan itu….kasihan… harus bekerja keras… Di mana suami mereka?"

Apa yang biasa bagi kita, belum tentu tepat bagi mereka. Namun bagi kaum perempuan Pakistan, tak ada tempat yang lebih nyaman dari istana di sudut rumah, yang lebih aman dengan perlindungan suami dan kaum keluarga.

(bersambung)


Bersama Ammu di Margala Hills


Backpacking Pakistan 20: Pengembara dari Catalan

 

Bahrain merupakan sebuah desa merangkap pekan kecil yang terletak tepat di titik pertemuan antara Daral Khwar (kiri) dan Swat River (kanan)

7 Mac 2020

"Datanglah lagi ke sini jika ada masa," kata Rehman Uddin, "pintu rumah ini sentiasa terbuka buat kamu." Riak nada kata-katanya penuh dengan kesayuan, pelukannya erat sekali, seakan berat untuk melepaskan aku pergi.

Sudah begitu lama aku menginap di Odigram. Pada awalnya aku cuma mahu singgah ke desa ini untuk beberapa hari sahaja, tapi udara pergunungan syurgawi yang menyihir dan keselesaan yang sudah begitu lama tidak aku rasai justeru telah mendatangkan penyakit malas, yang mana tak ada sebarang kaedah penyembuhan melainkan cuma sang empunya diri yang mampu melawannya.

Lepas dari kemalasan, sekarang aku ditekan dengan rasa hampa. Dulu semangat kembara aku sebelum datang ke Lembah Swat begitu meluap-luap, ingin menelusuri sejarah Buddha yang pernah bertapak di sini sebelum datangnya Islam, ingin menggali kisah Taliban yang pernah menawan Lembah Swat, dan ingin bertemu dengan wanita Malaysia yang berkahwin dengan lelaki Pathan di desa Buner. Tapi kini, aku tak lebih dari seorang musafir yang cuma melewatkan hari di halaman rumah, menonton YouTube, membaca buku sepanjang hari, dan mengagumi keindahan hamparan salju di puncak gunung yang putih bersih.

Hingga pada akhirnya, hadir juga tekad yang membulat. Aku membuat keputusan untuk menyambung perjalanan. Sudah terlalu lama aku beristirahat di sini. Dengan tempoh visa yang cuma tinggal sebulan setengah, masih banyak lagi tempat yang ingin aku teroka dan masih ramai lagi orang yang aku mahu jumpa.

Ringkas cerita, keesokan harinya aku sudahpun berada di Upper Swat, atau lebih tepat lagi, di Bahrain. Bahrain (juga dieja Behrain) adalah sebuah pekan kecil yang terletak 60km dari Kota Mingora dan berketinggian 4700 kaki di tebing Sungai Swat. Tempat ini dinamakan Bahrain (yang bermaksud dua sungai dalam erti harfiah) kerana lokasinya yang tepat di titik pertemuan antara Daral Khwar dan Swat River. Ia terkenal dengan resort-resort percutian tepi sungai, kraf tangan tempatan, dan pemandangan menakjubkan barisan gunung ganang yang mengepung seluruh pekan. Bahrain juga merupakan base camp bagi laluan trail yang membawa para trekker menuju ke tasik Daral dan Saidgai.


Pekan Bahrain

Ketibaan aku di Bahrain disambut Bakht Mand Khan, seorang lelaki tempatan yang sudah mengundang aku menginap di rumahnya sejak beberapa minggu lalu. Penampilannya kemas, orangnya tidak terlalu tinggi, wajahnya bersih tanpa sebarang jambang, dan bahasa Inggerisnya fasih. Walaupun baru berjumpa buat kali pertama, keakraban kami sudah seperti sahabat lama. Bakht Mand adalah seorang yang gemar bergurau serta mudah ketawa.

Aku dibawa berjalan meninggalkan kawasan pekan dan seterusnya menuju ke rumahnya yang terletak di permukiman desa di lereng gunung. Jalan belakang gunung ini cukup panjang, datar, dan tidak terlalu sukar untuk ditelusuri. Kecuali di beberapa tempat yang terkena longsoran dari puncak, jalan tertutup oleh tompokan batu. Aku memang kurang gemar kalau lalu di jalan seperti ini. Seram sekali bila perlu melintasi tompokan bongkahan batu sedangkan di bawah sana ada jurang menganga dan di atas puncak sana pula batu besar boleh turun pada bila-bila masa.

"Cepat! Cepat!" kata Bakht Mand menyorak. Melintasi kawasan longsoran memang perlu cepat, kerana tanah tidak stabil dan longsoran masih boleh terjadi. Dengan backpack berat yang dipikul di bahu, aku malah merangkak dengan kedua telapak tangan di atas bebatuan seperti bayi yang baru belajar berjalan. Sungguh perjalanan di desa-desa utara Pakistan memang memerlukan sejumput lebih banyak jiwa petualang.


Swat River yang surut pada musim sejuk

Tetapi petualangan aku ini seperti tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan lelaki Sepanyol yang aku temui di malam harinya. Wajahnya serius, tak ada senyum di bibirnya. Janggut panjang yang dipintal menghiasi wajahnya yang bujur. Matanya segaris, suram. Kulitnya putih, namun tak terawat, berkerak di sana-sini. Sungguh kontras dengan diri aku yang selalu mengenakan krim pelembap. Dia tipikal orang Eropah yang mengembara dengan cara hippie: bergerak dari satu tempat ke satu tempat yang lain dengan menumpang kenderaan orang dan menjalani hidup bertahun-tahun di atas jalan. Tapi yang membuat aku seketika merasa takjub adalah, dia mampu bertutur bahasa Melayu kerana pernah berkelana di Malaysia dan Indonesia selama dua tahun.

Jauh-jauh dari Wilayah Catalonia asalnya, lelaki ini lebih terlihat seperti warga dusun Pakistan. Dia berbalut shalwar kamiz yang penuh kedutan, berpadu dengan sehelai shawl yang melintang di bahu. Dengan gerakan perlahan dia membuka selembar peta Asia yang sudah lusuh dan koyak, penuh tampalan selotip di sana-sini, sempat membuat aku mengira kertas peta itu terbuat daripada plastik.

"This way," katanya dengan suara berat dan pekat, tipikal loghat orang Latin yang bercakap dalam bahasa Inggeris, "adalah jalan menuju Chapursan."

"Chapursan? Tempat apa itu?"

"Ia adalah syurga tersembunyi. Di peta ini kamu boleh lihat ada Koridor Wakhan di sini," katanya sambil menunjukkan dataran sempit yang menjulur panjang di timur laut Afghanistan, "Chapursan terletak tak jauh dari sempadan Wakhan. Begitu terpencil dan tersembunyi. Sebuah syurga di hujung dunia, terkunci waktu."

"Untuk sampai ke sini," lanjut lelaki Sepanyol ini, "kamu harus melintasi Mastooj, Istach, sampai Broghil, desa terakhir di Upper Chitral. Kalau dari Gilgit pula, kamu boleh melalui Karakoram Highway hingga Afiyatabad kemudian belok ke kiri ke utara ke arah sempadan Afghanistan."

Semua nama itu masih asing bagiku, tetapi aku justeru terpesona dengan perjalanan (lebih tepat lagi, petualangan) lelaki ini. Siapa sangka dengan penampilannya yang kusut masai seperti ini, ternyata dia adalah seorang pengelana besar, pemberani yang mempertaruhkan apa pun demi menemukan rahsia alam di lembah-lembah yang terpencil. Dia jelas adalah jenis pengembara yang begitu aku kagumi.

Dia sudah berkelana ke pelbagai penjuru Pakistan, dari perbatasan Taftan, turun hingga Karachi di selatan, naik ke utara, dan kini menuju ke barat. Semuanya dengan menahan kenderaan di jalanan. Percuma, tanpa sebarang kos.

Susah? Tentu saja tidak. Dia mampu bertutur bahasa asas Urdu. Yang lebih mengagumkan, dia sentiasa belajar bahasa tempatan di setiap tempat yang dia singgahi. Di Quetta, dia bertutur bahasa Balochi, bahasa Sindh di Karachi, Punjabi di Lahore, Kashmiri di Azad Kashmir, Khowari di Chitral, dan sekarang dia mempelajari bahasa Pashto di Khyber Pakhtunkhwa.

Walaupun terdengar patah-patah, ternyata dia tidak ada kesulitan sama sekali untuk berkomunikasi dengan orang tempatan. Tak pernah dia tinggal di mana-mana penginapan berbayar, kerana selalunya hanya menggunakan Couchsurfing, kadangnya pula di warung teh, yang selalu menyediakan tempat bermalam percuma bagi siapa pun yang singgah makan di sana.

Lelaki ini masih menunjukkan tempat-tempat mahaindah di peta robeknya. Ada Salang Pass di Afghanistan yang menurutnya adalah lintasan gunung terindah yang pernah dia lalui, di samping Lebuhraya Pamir di Tajikistan, Karakoram di Pakistan, dan Kardhungla Pass di India. Aku merasa ikut bertualang bersamanya dalam angan, mengembara melintasi kota-kota kuno yang ditunjukkan di atas peta.

Berkeliling di Asia tengah dengan menumpang trak, berbicara bahasa tempatan dengan fasih, menginap secara percuma di sepanjang perjalanan, mengunjungi dusun terpencil di balik gunung, mencari syurga di lembah yang tersembunyi, perjalanan seperti lelaki ini sungguh aku idamkan. Aku membayangkan diriku juga dapat berkeliling di Asia Tengah suatu hari nanti.

Namun aku tak tahu apakah aku mampu mengikut jejak langkahnya. Apa yang pasti, di dalam sebuah kedai makan di pekan kecil Bahrain, aku terpukau dengan petualangan seorang pengembara dari Catalan.

(bersambung)


Makanan istimewa Bahrain, chapli kebab

Rumah keluarga Bakht Mand

Terkurung gunung


Search accomodation for your next trip!

Popular Posts

Trip.com

Bangsa membaca bangsa berjaya!

One Way at MYR79!